Sunday, 16 February 2014

Bisakah kau memahaminya? :)

Ini bukan kali pertama lagi dia melakukan hal ini, mungkin udah kedua atau ketiga. Tapi? Aku tak pernah mengacuhkan mereka.
" kenapa masih kau pertahankan dia? Dia tak baik untukmu. Lihatlah, adikmu sudah tidak menyetujui hubunganmu. Kau tahu kenapa? Karena adikmu menyayangimu. Dia tak ingin pria itu menyakitimu. Lihatlah kelakuan dia? Bukankah kau sudah tahu? Kenapa kau tetap diam saja? Apa kau takut? Pengecut? Ayo cepat ambil keputusan sebelum kau semakin diperolog dengannya. "

Akupun terdiam karena aku tak tahu apa yang akanku lakukan, omongannya ada benarnya juga tapi, bagaimana aku harus mengakhirinya? Aku tak bisa, tak ada dayaku untuk mencobanya. Namun mereka tetap kokoh menyuruhku meninggalkannya.

---------------------
Aku masih terdiam sendiri, menunggunya untuk memberi kabar padaku. Sudah lebih dari 12jam dia hilang entah kemana. Akupun setia menunggunya walau saat itu aku sudah kelelahan, namun bila aku meninggalkannya tidur, aku tak yakin dia akan bersemangat besok.
Waktu menunjukkan pukul 10 lewat. Akupun sudah mengantuk, tapi aku tetap berusaha melawan rasa kantukku. Seseorang mengajakku berbicara
" belom tidur? Tumben "
Dan aku hanya menjawab dengan kebohonganku
" belum kak belum ngantuk hehe" padahal saat itu rasa kantukku sudah tak terkontrol

Akupun masih menunggunya. Dan sampai jam 10.30 akhirnya yang aku tunggu tunggu datang juga.
" maaf ya baru kabarin, aku baru selesai dengan urusanku."

Cukup bahagia hatiku melihat chat darinya walau aku lelah sekali.

" iya. Gpp :) "
Lalu dia berkata lagi
" aku tidur duluan ya capek banget"
Sekejap akupun terdiam. Selera tidurku hilang. Bagaimana tidak? Dia orang yang selalu ku tunggu dan relaku menunda waktu tidurku. Namun kenapa dia harus meninggalkanku lagi? Bisakah kita memperpanjang chat ini sebentar? Hargai aku. Aku lelah menunggumu. Tapi saat itu aku tak pernah menunjukkan egoku padanya.

" baiklah, selamat beristirahat{} see ya tomorrow"
Aku selalu terlihat mensupport dia, aku jarang sekali mengeluhkannya. Karena aku rasa perasaanku lebih besar dibandingkan keluhanku.

Diapun terlelap dan aku masih terjaga. Dikala aku terjaga aku hanya berfikir, apakah kau tidak berfikir juga untuk menghargai usahaku ini. Aku cukup lelah menunggumu. Tidakkah kau ingin sejenak berbicara padaku agar pengorbananku ini tak sia-sia. Bagaimana bisa kau bersikap senang si jejaring sosial, sedang bersamaku? Kau selalu mengeluh lelah. Tetapi aku lebih baik diam karena ini hanya masalah sepela yang tak seharusnya diperpanjang.

--------------------

Kau berulah lagi. Kali ini aku melihat sendiri chatmu. Aku tak percaya kau berkata kepada temanku. Kau ingin mencari penggantiku disana, kenapa harus kau melakukannya? Padahal disini aku setia denganmu. Kenapa kau tega? Aku memang tak pernah bilang padamu. Lebih baik aku diam dan hanya menunggu hingga kau paham maksudku. Nyatanya dia tak paham-paham maksudku.

Akupun masih memperhatikan segalanya dengan berpura-pura tak mengetahuinya. Betapa dalamnya rasa sakit ini, tidakkah kau paham? Bisakah kau mengerti? Bisakah kau menyadarinya?
Aku memang tak bisa memaksamu. Dan lagi lagi aku memilih untuk diam.

---------------------------

Kau berucap janji. Akupun mempercayaimu pada awalnya. Namun kenapa semakin lama janji tersebut terlihat bagaikan mengunyah permen karet? Awalnya manis lama lama tak ada rasa dan dibuang lalu dilupakan.
Sedikit demi sedikit rasa percayaku terhadapmu mulai terkikis atas ulahmu sendiri.

-------------------------

Mengapa tak kau jujur? Lagilagi ini menyakitkan bagiku. Sering kali kau berbohong. Membohongiku dan hubungan kita ini. Mengapa tak kau bilang jika kau memang sedang pergi bersama temanmu untuk menghibur hatimu yang lelah merindukanku? Mengapa harus kau berbohong lagi? Kau bilang kau terlelap padaku namun kenyataannya? Aku kecewa akupun curiga dengan siapa kau pergi? Kemana kau pergi? Mengapa harus kau berbohong?

-----------------------------

Kau berbohong lagi, kau bilang kau tidak merokok padaku. Tapi, takku percaya aku melihatnya sendiri. Kau mengkhianati janji yang telah kau buat sendiri. Aku menjauhi orang yang akan menghalangi kau dengan aku dulu, namun tidakkah orang itu baik terhadapku pada kenyataannya? Dia mengingatkanku, namunku tak mendengarkannya karena kau yang memaksaku untuk percaya terhadapmu. Aku cukup lelah dengan semua ini

----------------------------

Untuk kesekian kalinya kau terlihat bosan. Kaupun bersikap sedikit dingin padaku. Akupun berusaha memperbaiki keadaan. Namun tak berhasil. Akupun menyerah aku rasa aku kalah karena aku terlalu lemah atas kelelahanku. Aku tak kuat lagi. Aku berusaha mencari kebahagiaan lain bersama temanku namun tetap aku tak bisa menganggurkanmu. Aku selalu ingat dengannya.Tapi tak begitu pula dia. Chatku mungkin dibalas jika dia ingat.
Dannn kau berbohong lagi dan aku tak tahan lagi. Lagi lagi kau menghilabg, kau bilang kau tidur tapi nyatanya kau............
Akupun tak nyaman dengan hubungan yang penuh kebohongan ini dari awal. Semua terasa seperti sudah di rencanakan. Yaa terencana oleh rencana konyolmu. Dan aku dengan bodohnya mengikuti permainanmu dengan baik.
Namun aku harus cepat ambil keputusan. Keputusan terberatku, "meninggalkanmu". Berakhir sudah semua kisah menarik selama kita bersama. Memang terlihat indah bagimu. Tapi terlalu sakit bagiku. Coba kau diposisiku. Aku yang berpura-pura dan jahatku mempermainkanmu yang setia disana.

Masa pdkt kita memang terlihat sangat manis,romantis, dan mulus. Tapi aku tetap tak menyangk bila kenyataannya sepahit ini. Semua janji janji palsumu, semua tencana jahatmu dibelakangku, semuanya begitu menyakitkan. Tapi aku tak apa. Walau kau tetap terlihat seperti manusia suci tanpa dosa, namun aku tahu apa yang tak kau ketahui. Aku yakin tuhanpun tahu dan kau akan mendapatkan pembalasan dari tuhan atas ulahmu yang lalu lalu.

3 comments:

  1. Wow, aku juga pernah ngerasain pertasaan kayak gini. Agak nyesek memang. Hiks...

    Oh ya, aku juga punya cerita di blogku, kalo nggak sibuk, nanti mampir ya... :)

    ReplyDelete
  2. kisah aku banget ;'(

    ReplyDelete